Kamis, 26 Juli 2018

Apa Itu Demam Tifoid? Penyebab, Gejala & Cara Penularannya

Gambar Ilustrasi Demam Tifoid

Demam tifoid, yang sering disebut tifus, adalah penyakit infeksi akut yang terutama menyerang saluran pencernaan. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di wilayah dengan sanitasi dan akses air bersih yang belum memadai. 

Apa Itu Demam Tifoid?

Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan terutama oleh bakteri Salmonella Typhi. Sementara itu, demam paratifoid dapat disebabkan oleh Salmonella Paratyphi A, B, atau C. Bakteri tersebut termasuk basil gram-negatif, tidak berspora, dan dapat bertahan pada kondisi tertentu di lingkungan, mempunyai 3 macam antigen yaitu antigen O, antigen H, dan antigen VI. Dalam serum penderita terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. terutama menyerang bagian saluran pencernaan. Kuman tumbuh pada suasan aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 – 41°C (optimum 37°C) dan pH pertumbuhan 6 – 8.

Setiap tahun diseluruh dunia terdapat sekitar 17.000.000 kasus dengan 600.000 kematian. Jika tidak segera diobati, 10-20% penderita penyakit tersebut dapat berakibat fatal. Sekitar 2% dari penderita menjadi carrier(pembawa). Di Indonesia, diperkirakan antara 800 – 100.000 orang terkena demam tifoid sepanjang tahun.
Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang, Diperkirakan angka kejadian penyakit ini adalah 300 – 810 kasus per 100.000 penduduk/tahun. Insiden tertinggi didapatkan pada anak-anak, peningkatan kasus saat ini terjadi pada usia dibawah 5 tahun. Orang dewasa sering mengalami infeksi ringan dan sembuh sendiri lalu menjadi kebal. Insiden penderita berumur 12 tahun keatas adalah 70 – 80%, penderita umur antara 12 dan 30 tahun adalah 10 – 20%, penderita antara 30 – 40 tahun adalah 5 – 10%, dan hanya 5 – 10% diatas 40 tahun. Kebanyakan penyakit typus ditularkan melalui kotoran. Termasuk kuman yang hidup normal dalam usus hewan, ternak dan reptil, sumber daging unggas unggas kurang matang, telur , melalui anjing, kucing, makanan dan minuman tercemar (batu es), dari carrier yaitu orang sehat tetapi membawa kuman

Istilah “tifus” sering digunakan masyarakat untuk menyebut demam tifoid. Namun, diagnosis penyakit ini tidak boleh hanya berdasarkan gejala atau hasil pemeriksaan tunggal, melainkan perlu penilaian tenaga kesehatan dan pemeriksaan yang sesuai.

Demam Tifoid di Indonesia

Demam tifoid bersifat endemik di sejumlah wilayah Indonesia dan dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Risiko penularannya meningkat ketika higiene perorangan, keamanan pangan, air bersih, atau pengelolaan sanitasi belum baik.

Kelompok anak dan remaja perlu mendapat perhatian karena paparan makanan atau minuman yang tidak higienis dapat terjadi di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar.

Cara Penularan Demam Tifoid

Demam tifoid terutama menular melalui jalur fekal-oral, yaitu ketika kuman dari tinja penderita atau pembawa kuman masuk ke mulut orang lain melalui makanan, minuman, tangan, atau benda yang terkontaminasi.

Konsep 5F dalam Penularan

  • Food: makanan yang terkontaminasi.
  • Fingers: tangan atau kuku yang tidak bersih.
  • Fomites: benda yang terkontaminasi, misalnya peralatan makan.
  • Flies: lalat yang membawa kuman dari tinja ke makanan.
  • Feces: tinja penderita atau carrier sebagai sumber kuman.

Sumber penularan dapat berupa air minum yang tidak bersih, es batu dari sumber yang tidak jelas, makanan yang kurang matang, makanan yang dibiarkan terbuka, serta makanan yang diolah tanpa mencuci tangan dengan benar. 

Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial.

Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.  Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

Gejala Demam Tifoid

Gejala demam tifoid dapat berbeda pada setiap orang. Keluhan biasanya berkembang bertahap dan dapat berlangsung selama beberapa hari hingga minggu apabila tidak ditangani dengan baik.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

  • Demam yang menetap atau meningkat, sering terasa lebih tinggi pada sore hingga malam hari.
  • Lemas, sakit kepala, nyeri otot, dan penurunan nafsu makan.
  • Nyeri perut, kembung, mual, muntah, diare, atau konstipasi.
  • Lidah tampak berlapis putih dengan tepi kemerahan pada sebagian pasien.
  • Pembesaran hati atau limpa pada kondisi tertentu.
  • Bintik kemerahan pada kulit atau rose spots, meski tidak selalu muncul.
  • Penurunan kesadaran pada kondisi berat atau saat terlambat mendapat pertolongan.

Catatan: Gejala-gejala tersebut tidak spesifik untuk tifoid. Demam berkepanjangan dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan.

Bagaimana Proses Infeksi Terjadi?

Kuman Salmonella Typhi masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman yang tercemar. Sebagian kuman dapat dimusnahkan oleh asam lambung, tetapi sebagian lainnya dapat mencapai usus halus dan berkembang biak.

Selanjutnya, kuman dapat masuk ke aliran darah dan menyebar ke organ seperti hati, limpa, usus, serta kandung empedu. Respons peradangan tubuh terhadap infeksi inilah yang dapat memunculkan demam dan keluhan sistemik lainnya.

Diagnosis Demam Tifoid

Dokter akan menilai riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, riwayat konsumsi makanan atau minuman berisiko, serta hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan dapat mencakup darah lengkap dan pemeriksaan untuk mendeteksi bakteri, seperti kultur darah sesuai pertimbangan klinis.

Catatan tentang Tes Widal

Tes Widal mendeteksi antibodi terhadap bakteri Salmonella yaitu kuman yang terdapat di minuman dan makanan yang terkontaminasi dengan tinja orang yang sakit. Dikatakan meningkat bila titernya lebih dari 1/400 atau didapatkan kenaikan titer dua kali lipat dari titer sebelumnya dalam waktu 1 minggu. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemui bradikardi (denyut melemah) relatif, pembesaran limfa, tegangnya otot perut, dan kembung. Serta, periksalah kandungan empedu tidak mengalami peradangan menahun karena bakteri tipes dapat menempati kandung empedu. Tes ini tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis karena dapat dipengaruhi oleh riwayat infeksi, vaksinasi, dan kondisi lain.

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Tanpa penanganan yang tepat, demam tifoid dapat menimbulkan komplikasi serius. Risiko komplikasi meningkat pada kasus berat, keterlambatan diagnosis, atau pengobatan yang tidak sesuai.

  • Perdarahan saluran cerna.
  • Perforasi atau kebocoran usus.
  • Dehidrasi dan gangguan elektrolit.
  • Peradangan kandung empedu atau infeksi menetap pada pembawa kuman.
  • Gangguan kesadaran pada kasus berat.

Cara Mencegah Demam Tifoid

Pencegahan tifoid berfokus pada kebersihan diri, keamanan makanan, air minum yang aman, dan sanitasi lingkungan.

Langkah Pencegahan

  1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan, sebelum mengolah makanan, serta setelah dari toilet.
  2. Minum air yang dimasak hingga matang atau berasal dari sumber yang aman.
  3. Pastikan makanan dimasak sampai matang, terutama daging, telur, dan unggas.
  4. Cuci buah dan sayur menggunakan air bersih sebelum dikonsumsi.
  5. Hindari makanan atau minuman yang kebersihan dan sumber airnya tidak jelas.
  6. Simpan makanan dalam keadaan tertutup untuk mencegah lalat hinggap.
  7. Gunakan jamban sehat dan kelola limbah rumah tangga dengan baik.
  8. Konsultasikan vaksin tifoid dengan fasilitas kesehatan, terutama bagi kelompok berisiko atau yang tinggal di daerah endemis.

Pengobatan Demam Tifoid

Pengobatan harus dilakukan berdasarkan pemeriksaan dokter. Antibiotik dapat diberikan bila memang diperlukan, dengan jenis dan lama penggunaan yang disesuaikan dengan kondisi pasien serta pola resistensi setempat.

Selain obat, pasien perlu cukup istirahat, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengonsumsi makanan bergizi yang mudah dicerna. Jangan membeli atau menghentikan antibiotik sendiri karena penggunaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi dan kekambuhan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam lebih dari tiga hari, demam disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, diare berat, lemas ekstrem, tanda dehidrasi, buang air besar berdarah atau hitam, maupun penurunan kesadaran.

Kesimpulan

Demam tifoid adalah penyakit menular yang berkaitan erat dengan kebersihan tangan, air minum, makanan, dan sanitasi lingkungan. Pencegahan melalui perilaku hidup bersih, pengolahan makanan yang aman, serta pemeriksaan dini ketika demam menetap merupakan langkah penting untuk melindungi diri dan keluarga.

D.  


Baca juga: Penyakit TB Paru dan Penyebaran

2 komentar: