Dalam ilmu keperawatan dan kesehatan masyarakat, sehat dan sakit dipahami bukan sekadar ada atau tidaknya penyakit. Konsep sehat-sakit dipengaruhi oleh cara pandang individu, lingkungan, budaya, serta nilai sosial yang melekat pada kehidupan manusia.
Konsep Sehat dalam Keperawatan
Menurut WHO (1947), sehat adalah keadaan yang sempurna baik dari segi fisik, mental, maupun sosial, dan bukan hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan. WHO juga menekankan tiga karakteristik utama: memperhatikan individu sebagai manusia, memandang sehat dalam konteks lingkungan internal maupun eksternal, serta sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif.
Faktor yang Memengaruhi Keyakinan tentang Sehat
- Status perkembangan: kemampuan memahami keadaan sehat dan merespons perubahan kesehatan dipengaruhi usia.
- Pengaruh sosiokultural: tiap budaya memiliki pandangan tentang sehat yang diturunkan dari generasi ke generasi.
- Pengalaman masa lalu: seseorang bisa menganggap nyeri/sakit sebagai hal “normal” bila pernah mengalami hal serupa sebelumnya.
- Harapan tentang diri: saat sehat, seseorang berharap dapat berfungsi optimal baik fisik maupun psikososial.
Faktor Lain yang Berhubungan dengan Diri
- Penerimaan diri (self-acceptance) yang baik.
- Self esteem, body image, kebutuhan peran, dan kemampuan individu.
- Jika ada ancaman, dapat muncul kecemasan (anxiety) yang memengaruhi cara individu memandang kesehatan.
Konsep Sakit dalam Keperawatan
Sakit dipandang sebagai penyimpangan dari status sehat (definisi/konsep dalam keperawatan). Secara umum, sakit adalah gangguan dalam fungsi normal individu sebagai totalitas, meliputi aspek biologis dan penyesuaian sosial.
Selain itu, dalam menilai seseorang sakit, dapat dilihat dari tiga kriteria: adanya gejala (misalnya demam/nyeri), persepsi individu tentang kondisi dirinya (bagaimana ia merasakan baik-buruk-sakit), serta kemampuan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, bekerja, atau sekolah.
Konsep Penyakit, Hubungan Sehat–Sakit, dan Faktor Host–Agent–Environment
- Penyakit dipahami sebagai gangguan fungsi tubuh yang menyebabkan berkurangnya kapasitas.
- Hubungan sehat, sakit, dan penyakit bersifat dinamis, karena pada dasarnya merupakan bentuk interaksi seseorang dengan lingkungan.
- Gangguan kesehatan dapat dipahami sebagai ketidakseimbangan antara host–agent–environment.
Rentang Sehat–Sakit (Sehat tidak “mutlak”)
Sehat dan sakit berada pada rentang yang dilalui setiap orang. Posisi seseorang bersifat dinamis, individual, dan skala sehat-sakit bisa berubah dari kondisi optimal sehat hingga kondisi yang mengarah pada kematian.
Dampak Sakit
Dampak Sakit pada Keluarga
- Perubahan peran.
- Peningkatan stres akibat kecemasan tentang hasil penyakit serta konflik tanggung jawab.
- Masalah keuangan.
- Kesepian akibat perpisahan.
- Perubahan kebiasaan sosial.
Dampak Sakit Akibat Perawatan/Hospitalisasi
- Mengganggu privacy dan autonomy (kemandirian).
- Mengubah gaya hidup karena aturan rumah sakit.
- Mempengaruhi peran dan kondisi ekonomi keluarga.
- Perawat dapat memberi dukungan agar klien kembali ke aktivitas normal sedini mungkin.
Konsep Sehat–Sakit Menurut Perspektif Sosial
Secara sosial, sehat berarti kemampuan seseorang membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. Sosiologi kesehatan membahas proses perilaku individu atau interaksi masyarakat yang memengaruhi status kesehatan, termasuk hubungan petugas kesehatan dengan klien.
Kesehatan sosial juga terkait kemampuan memelihara dan memajukan kehidupan pribadi/keluarga sehingga memungkinkan seseorang bekerja, beristirahat, dan menikmati hiburan. Kesehatan sosial terwujud ketika seseorang mampu berhubungan baik tanpa membedakan ras, suku, agama/kepercayaan, status sosial-ekonomi, politik, dan tetap saling toleran serta menghargai.
Nilai-nilai dalam dimensi sosial dapat meliputi nilai kebersamaan sosial, religi, keamanan, dan ekonomi.
Masalah Sehat dan Sakit (Kompleks dan Dipengaruhi Banyak Faktor)
Masalah kesehatan bersifat kompleks sebagai hasil dari berbagai faktor, seperti lingkungan alamiah maupun buatan manusia, sosial-budaya, perilaku, populasi, hingga genetika. Derajat kesehatan masyarakat juga merupakan resultante beberapa faktor, yaitu lingkungan, perilaku, keturunan/heredity, serta layanan kesehatan (preventif, promotif, kuratif, rehabilitatif).
Perilaku sakit, peranan sakit, dan peranan pasien juga dipengaruhi kelas sosial, suku, dan budaya; akibatnya ancaman kesehatan yang sama bisa menimbulkan reaksi berbeda di kalangan pasien.
Konsep Sehat–Sakit Menurut Budaya/Antropologi
Istilah “sehat” mengandung muatan kultural, sosial, dan pengertian profesional yang beragam. Konsep sehat bisa diinterpretasikan berbeda-beda bergantung komunitas (misalnya pendekatan etik dan emik).
Dalam pendekatan etik, sehat dapat dilihat dari beberapa dimensi: jasmani, mental, emosional, sosial, spiritual, serta societal (kondisi sosial-politik-ekonomi-budaya yang melingkupi individu).
Konsep sakit juga sangat dipengaruhi budaya: penyakit dapat dimaknai sebagai gangguan fungsi yang memengaruhi peran normal seseorang. Masyarakat dapat menganut dua cara pandang penyebab sakit, yaitu naturalistik (misalnya dipengaruhi lingkungan/ketidakseimbangan tubuh) dan personalistik (misalnya adanya agen aktif seperti roh/tenung).
Konsep Sehat–Sakit Menurut Filsafat
Dalam filsafat, sehat dan sakit dipandang sebagai bagian dari kehidupan manusia yang berlangsung sepanjang sejarah. Penetapan batas sehat-sakit secara universal tidak selalu mudah disepakati.
Contoh pandangan filsafat (misalnya Taoisme) menekankan keseimbangan antara unsur yin dan yang; ketidakseimbangan tersebut dapat dipahami sebagai sakit. Perkembangan pemikiran modern juga kembali menekankan pendekatan holistik, yang tidak memisahkan sepenuhnya aspek fisik dan non-fisik.
Makna Konsep Sehat yang “Baru”
Makna sehat terus berkembang mengikuti pengalaman manusia serta perubahan nilai sosial. Definisi WHO yang awalnya menekankan kondisi sempurna fisik-mental-sosial juga kemudian berkembang, termasuk memasukkan unsur hidup produktif dalam konteks sosial dan ekonomi.
Konsep ini kemudian sejalan dengan upaya pelayanan kesehatan dasar yang menekankan kesehatan sebagai hak asasi dan tujuan agar masyarakat dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit
Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit saling berhubungan. Peningkatan kesehatan berfokus memelihara atau memperbaiki tingkat kesehatan saat ini, sedangkan pencegahan penyakit melindungi individu dari ancaman kesehatan yang aktual maupun potensial.
Peningkatan Kesehatan: Aktif dan Pasif
- Aktif: individu dimotivasi untuk melakukan program kesehatan.
- Pasif: individu mendapat manfaat dari kegiatan yang dilakukan pihak lain tanpa harus melakukan program sendiri.
Tingkatan Pencegahan Penyakit
- Primer: sebelum penyakit terjadi, diberikan pada individu sehat secara fisik dan mental.
- Sekunder: fokus pada individu yang sudah mengalami masalah kesehatan/berisiko komplikasi melalui diagnosis dan intervensi dini (misalnya skrining dan pengobatan tahap awal).
- Tersier: saat sudah terjadi kecacatan/ketidakmampuan permanen, menekankan meminimalkan dampak dan mempertahankan fungsi melalui rehabilitasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar