Kusta atau Morbus Hansen adalah penyakit menular kronik yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae. Kusta menyerang saraf tepi dan kulit, serta dapat mengenai mukosa saluran pernapasan atas; lesi kulit menjadi salah satu tanda yang bisa diamati dari luar.
Definisi Kusta
Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta yang merujuk pada kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit ini termasuk tipe granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa saluran pernapasan atas, dengan lesi kulit sebagai tanda yang dapat dilihat.
Kusta juga dijelaskan sebagai penyakit menular yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang menyerang saraf tepi, kulit, dan jaringan tubuh lainnya.
Tipe Kusta dan Reaksi Kusta
Dalam pembahasan klinis, kusta dapat disertai reaksi kusta yang penting karena dapat memperburuk kondisi saraf dan kulit.
Reaksi Tipe I (Reaksi reversal / upgrading / borderline)
Reaksi tipe I terjadi pada pasien dengan tipe borderline, diperkirakan akibat meningkatnya kekebalan seluler secara cepat. Gejala klinis dapat berupa perubahan lesi kulit, neuritis nyeri tekanan pada saraf, serta gangguan keadaan umum (gejala konstitusi).
Reaksi Tipe II (Eritema nodosum leprosum/ENL)
Reaksi tipe II terjadi pada pasien tipe multibasiler (MB). Reaksi ini bersifat humoral, terkait pembentukan antibodi dan komplemen terhadap antigen basil kusta. Kompleks imun dapat mengendap pada berbagai organ, termasuk kulit (nodul ENL), mata (iridosiklitis), sendi (artritis), serta saraf (neuritis). Sering disertai gejala konstitusi seperti demam dan malaise.
Hal yang dapat mempermudah terjadinya reaksi kusta meliputi stres fisik dan stres mental, contohnya kondisi lemah menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan, pembedahan, sesudah imunisasi, serta malaria. Perjalanan reaksi dapat berlangsung hingga sekitar tiga minggu dan kadang berulang-ulang dalam waktu lama.
Epidemiologi dan Penularan Kusta
Sampai saat ini, mekanisme penularan kusta masih menjadi tanda tanya. Namun, yang diketahui adalah adanya “pintu keluar” kuman dari tubuh penderita, terutama dari selaput lendir hidung.
Beberapa kemungkinan jalur penularan yang disebutkan antara lain:
- Melalui sekret hidung: basil dari sekret hidung penderita yang mengering masih dapat hidup selama 2–7 kali 24 jam di luar tubuh.
- Kontak kulit dengan kulit: mensyaratkan adanya lesi pada keduanya (mikroskopis maupun makroskopis), kontak lama dan berulang, serta disebutkan syarat usia di bawah 15 tahun.
Namun, data klinis menunjukkan bahwa tidak semua kasus penularan dapat dijelaskan hanya melalui kontak kulit yang lama dan berulang. Beberapa kajian menyimpulkan penularan dan perkembangan kusta dipengaruhi oleh jumlah/keganasan kuman (Mycobacterium leprae) dan daya tahan tubuh penderita.
Etiologi (Penyebab)
Penyakit kusta disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang ditemukan oleh G.H. Armauer Hansen (1873) di Norwegia. Basil ini bersifat tahan asam, berbentuk pleomorf lurus dengan ukuran sekitar 1–8 µm dan diameter 0,25–0,3 µm. Kuman kusta hidup dalam sel terutama pada jaringan yang bersuhu lebih rendah, serta tidak dapat dikultur pada media buatan (in vitro).
Patofisiologi (Gambaran Mekanisme)
Mekanisme penularan yang tepat belum diketahui pasti. Ada beberapa hipotesis, misalnya adanya kontak dekat dan kemungkinan penularan melalui udara. Bukti menunjukkan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi kuman kusta akan menderita kusta, sehingga faktor seperti iklim (panas dan lembab), diet, status gizi, status sosial ekonomi, dan faktor genetik diduga berperan.
Secara umum diperkirakan kulit dan mukosa hidung menjadi pintu keluar kuman dari tubuh manusia. Sementara pintu masuk kuman ke tubuh manusia masih belum pasti; saat ini diperkirakan kulit dan saluran pernapasan atas bisa menjadi gerbang masuk.
Masa inkubasi kusta dilaporkan bervariasi: minimum beberapa minggu, maksimum hingga 30 tahun, dan rata-rata sekitar 3–5 tahun.
Gejala Kusta
Kusta dapat dibagi menjadi kusta kering (pausi basiler/PB) dan kusta basah (multi basiler/MB). Pada kusta kering, bisa muncul bercak putih seperti panu. Pada kusta basah, gejalanya mirip kadas: bercak kemerahan disertai penebalan pada kulit.
Gejala paling mendasar adalah mati rasa/biaal (hilangnya sensasi nyeri dan perubahan suhu). Kondisi ini menyebabkan penderita rentan mengalami kecacatan karena saraf rusak sehingga luka bisa tidak terasa dan berujung pada cedera berat.
Tanda dan gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Kulit kering; rambut/bulu di area lesi dapat rontok
- Bulu mata rontok
- Kelemahan atau kelumpuhan otot
- Perubahan bentuk wajah
- Mutilasi/luka borok akibat tidak terasa sakit
- Ginekomastia (payudara membesar pada pria)
- Penurunan berat badan
- Pembesaran saraf tepi, misalnya di sekitar siku dan lutut
- Lepuh atau ruam
- Muncul bisul tapi tidak sakit
- Hidung tersumbat atau mimisan
- Muncul luka tetapi tidak terasa sakit
Karena gejalanya bisa menyerupai penyakit lain, kusta juga dikenal sebagai the great imitator. Contoh penyakit yang mirip antara lain vitiligo, pitiriasis versikolor, pitiriasis alba, dan tinea korporis.
Faktor Penyebab dan Risiko Kusta
1) Faktor kuman kusta
Penularan lebih mungkin terjadi bila kuman masih utuh (solid). Mycobacterium leprae tahan asam dan hidup dalam sel terutama pada jaringan bersuhu rendah. Kuman dapat bertahan di luar tubuh sekitar 1–9 hari tergantung suhu/cuaca, dan hanya kuman utuh yang diketahui dapat menimbulkan penularan.
2) Faktor imunitas
Sebagian besar orang kebal terhadap kusta. Dari paparan, tidak semuanya berkembang menjadi penyakit; sebagian bisa sembuh sendiri tanpa obat, sedangkan sebagian kecil menjadi sakit. Pengaruh pengobatan juga perlu dipertimbangkan.
3) Keadaan lingkungan
Kondisi rumah yang berjejal (sering terkait kemiskinan) dapat meningkatkan risiko. Sebaliknya, perbaikan taraf hidup dan peningkatan imunitas berperan mencegah munculnya kusta.
4) Faktor umur
Kusta jarang ditemukan pada bayi. Risiko meningkat sesuai umur dengan puncak sekitar 10–20 tahun, lalu menurun; prevalensi juga meningkat hingga puncak sekitar 30–50 tahun kemudian menurun perlahan.
5) Faktor jenis kelamin
Secara umum insiden dan prevalensi pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan, kecuali di Afrika. Perubahan klinis dapat dipengaruhi faktor fisiologis seperti pubertas, monopause, kehamilan, infeksi, dan malnutrisi.
Catatan Penting
Jika Anda atau keluarga memiliki bercak kulit yang disertai mati rasa, penebalan kulit, atau perubahan saraf tepi, segera periksakan ke fasilitas kesehatan. Deteksi dini membantu mencegah kerusakan saraf dan kecacatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar