Selasa, 24 Juli 2018

Waspada TB Paru! Data Kasus Indonesia & Cara Melindungi Diri dari Penularan

Gambar Tuberculosis

Apa Itu TB Paru?

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar melalui udara saat penderita TB batuk, bersin, atau berbicara. Penularan sangat mudah terjadi, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh rendah. [1][2]

🚫 Fakta: Setiap detik, 1 orang terinfeksi TB di dunia. Indonesia menempati urutan ke-3 kasus TB tertinggi setelah India dan Cina.

Sejarah Singkat TB

  • 17.000 tahun lalu: Bukti TB ditemukan pada bangkai bison
  • 3000–2400 SM: TB terdeteksi pada mumi Mesir kuno
  • 460 SM: Hippocrates mengidentifikasi TB sebagai penyakit menular paling mematikan saat itu
  • 1882: Dr. Robert Koch menemukan bakteri M. tuberculosis (Hadiah Nobel 1905)
  • 1921: Vaksin BCG pertama kali digunakan pada manusia
  • 1946: Antibiotik streptomisin ditemukan, TB bisa disembuhkan
  • 1993: WHO menyatakan TB sebagai kedaruratan global

Gejala TB Paru

Gejala umum:

  • Batuk ≥3 minggu (bisa berdahak atau darah)
  • Demam, terutama malam hari
  • Berkeringat malam tanpa aktivitas
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Mudah lelah dan hilang nafsu makan

Gejala lanjut:

  • Batuk darah
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Suara napas mengi

⚠️ Ingat: Batuk berdarah tidak selalu TB, bisa juga karena luka saluran napas atau penyakit paru lain. Segera periksa ke dokter!

Faktor Risiko Penularan

  • Daya tahan tubuh rendah: Bayi, lansia, penderita HIV, gizi buruk
  • Rumah tidak sehat: Ventilasi buruk, kurang sinar matahari, lembap
  • Kontak erat: Tinggal serumah dengan penderita TB
  • Kurangnya pengetahuan: Tidak tahu gejala dan cara pencegahan
  • Stigma: Malu berobat, menganggap batuk biasa

Pencegahan TB

1. Pencegahan Primer (Sebelum Sakit):

  • Vaksinasi BCG pada bayi
  • Pola hidup sehat: gizi seimbang, olahraga, tidur cukup
  • Rumah sehat: ventilasi baik, sinar matahari masuk
  • Gunakan masker jika dekat penderita TB
  • Cuci tangan rutin

2. Pencegahan Sekunder (Deteksi Dini):

  • Skrining batuk ≥2 minggu di puskesmas
  • Pemeriksaan dahak (BTA) untuk diagnosis
  • Segera berobat jika ada gejala

3. Pencegahan Tersier (Setelah Sakit):

  • Pengobatan teratur hingga sembuh
  • Rehabilitasi paru pasca pengobatan
  • Edukasi keluarga untuk cegah penularan

💡 Highlight: TB BUKAN penyakit keturunan/genetik, tapi penyakit menular melalui udara.

Pengobatan TB: Strategi DOTS

DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) adalah strategi WHO untuk pengobatan TB yang efektif dan gratis di puskesmas.

5 Komponen DOTS:

  1. Komitmen politik: Dukungan pemerintah daerah
  2. Pemeriksaan mikroskopis: Diagnosis akurat melalui dahak
  3. Penyediaan OAT: Obat Anti-Tuberkulosis gratis dan cukup
  4. PMO (Pengawas Minum Obat): Keluarga/kader awasi pasien minum obat
  5. Pencatatan & pelaporan: Monitoring ketat setiap pasien

Regimen pengobatan (6–9 bulan):

  • Fase intensif (2 bulan): Isoniazid + Rifampisin + Pirazinamid + Ethambutol
  • Fase lanjutan (4–7 bulan): Isoniazid + Rifampisin

✅ Penting: Pengobatan TB HARUS teratur 6–9 bulan. Putus obat = risiko TB resisten (MDR-TB) yang lebih berbahaya!

Data Kasus TB di Indonesia

Indikator Angka
Prevalensi semua tipe TB (2011) 289 per 100.000 penduduk (±690.000 kasus)
Insidensi TB BTA+ (2012) 185 per 100.000 penduduk (±450.000 kasus baru)
Kematian akibat TB 27 per 100.000 penduduk (±182 orang/hari)
Total kasus TB Indonesia ±700.000 kasus (urutan ke-3 dunia)

Tantangan Penanggulangan TB

  • Penderita menganggap batuk biasa, tidak segera berobat
  • Masyarakat kurang percaya puskesmas
  • Kinerja puskesmas belum optimal
  • Belum semua faskes menerapkan DOTS
  • Dana pemerintah daerah terbatas
  • Stigma: TB dianggap penyakit memalukan
  • Ko-infeksi TB/HIV dan MDR-TB (TB resisten obat)

Program Prioritas Kemenkes

  1. Deteksi dini & diagnosis bermutu: Skrining kelompok rentan (HIV, anak gizi buruk, lapas, diabetes, perokok)
  2. Sistem logistik efektif: Pastikan obat TB tersedia terus di semua faskes
  3. Pengobatan standar + dukungan pasien: Setiap pasien punya PMO, edukasi memadai, akses mudah ke puskesmas

Kesimpulan

TB paru adalah penyakit menular serius, tetapi bisa disembuhkan dengan pengobatan teratur 6–9 bulan menggunakan strategi DOTS. Kunci keberhasilan: deteksi dini, pengobatan teratur, dan dukungan PMO. [1][3]

Jangan malu berobat! TB bukan penyakit memalukan. Segera ke puskesmas jika batuk ≥2 minggu, terutama dengan demam dan berat badan turun. [2]

Saran untuk Masyarakat

  • Segera periksa ke puskesmas jika batuk ≥2 minggu
  • Minum obat TB teratur sampai selesai (6–9 bulan)
  • Pastikan ada PMO (keluarga/kader) yang awasi minum obat
  • Jaga rumah sehat: ventilasi baik, sinar matahari masuk
  • Hilangkan stigma: TB bisa sembuh, bukan penyakit memalukan
  • Dukung program DOTS di puskesmas terdekat


PUSTAKA
Astusi dan Angga, (2010). Asuhan Keperawatan Anak dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Trans Info Media Jakarta
Suharyo, Determinan Penyakit Tuberkulosis di Daerah Pedesaan.Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2013. 9(1):85-91
Saydam, Gouzali (2011). Memahami berbagai penyakit pernapasan dan gangguan pencernaan. Bandung : Alfabeta
Soekano, Soerjono dan Budi Sulistyowati (2017). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada
Rahmaniati, Martya. Pola Penyebaran Kasus Tuberkulosis Dengan Pendekatan Spasial-Statistik.Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2012. hal 5-10
Sedyaningsih, Endang Rahayu. Strategi Nasional Pengendali TB. Jurnal Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011 hal 38-43
Anonimus (2015), Sejarah Pennyakit TBC. Diunduh pada hari sabtu, 14-April-2018 melalui web http://obattbcparu.web.id/sejarah-penyakit-tbc/
Helper, Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru dan penanggulangannya. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2010 9(4): 1342-1343
Anonims, cara penularan TBC. Diunduh hari sabtu 14-april-2018 melalui web http://tuberkulosis.org/cara-penularan-tbc/







Tidak ada komentar:

Posting Komentar