Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, sinus, tenggorokan, hingga paru-paru. ISPA merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia, dengan kasus mencapai 400 ribu per minggu pada musim kemarau 2026.
Sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus, meski dalam sejumlah kasus juga dapat disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini dapat menyerang semua usia, namun paling sering terjadi pada anak-anak, balita, dan lansia dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Apa Itu ISPA?
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung sampai alveoli (kantong udara di paru-paru), termasuk adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura.
Organ Pernapasan yang Diserang ISPA
- Saluran pernapasan atas: hidung, sinus, faring (tenggorokan), laring (pita suara)
- Saluran pernapasan bawah: trakea (batang tenggorokan), bronkus, bronkiolus, alveoli (paru-paru)
ISPA mencakup berbagai jenis penyakit, seperti:
- Rhinitis: peradangan pada hidung (pilek)
- Sinusitis: peradangan pada sinus
- Faringitis: peradangan pada faring (tenggorokan)
- Tonsillitis: peradangan pada amandel
- Laringitis: peradangan pada laring
- Bronkitis: peradangan pada bronkus
- Pneumonia: peradangan pada paru-paru (paling berbahaya)
Fakta Penting: ISPA adalah penyakit terbanyak yang diderita oleh anak-anak, baik di negara berkembang maupun negara maju. Banyak anak perlu dirawat di rumah sakit karena penyakit ini cukup gawat, dan penyakit pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat memberi kecacatan sampai masa dewasa.
Baca juga : Macam-Macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya
Jenis-Jenis ISPA
ISPA berdasarkan tingkat keparahannya dibagi menjadi dua jenis utama:
1. ISPA Non-Pneumonia (Ringan)
ISPA non-pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan yang tidak melibatkan jaringan paru-paru. Jenis ini termasuk:
- Common cold (pilek biasa): Disebabkan oleh rhinovirus, respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, dll.
- Influenza (flu): Disebabkan oleh virus influenza
Penyakit ini sering muncul pada musim pancaroba (peralihan musim hujan ke kemarau atau sebaliknya) dan biasanya sembuh sendiri dalam 1-2 minggu.
2. ISPA Pneumonia (Berat)
Pneumonia adalah ISPA yang sudah memasuki tahap sangat buruk dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Gejala pneumonia ditandai dengan:
- Demam tinggi
- Sesak napas
- Batuk berdahak
- Nyeri dada
Pneumonia merupakan komplikasi paling berbahaya dari ISPA dan menjadi penyebab kematian utama pada anak balita di Indonesia.
Gejala ISPA
ISPA menimbulkan gejala yang terutama terjadi pada hidung dan paru-paru. Gejala ini muncul sebagai respons terhadap racun yang dikeluarkan oleh virus atau bakteri yang menempel di saluran pernapasan.
Gejala Umum ISPA
- Sering bersin
- Hidung tersumbat atau berair (pilek)
- Paru-paru terasa terhambat atau sesak
- Batuk-batuk (kering atau berdahak)
- Tenggorokan terasa sakit atau gatal
- Demam (biasanya ringan hingga sedang)
- Kerap merasa kelelahan dan lemas
- Tubuh terasa sakit atau nyeri otot dan sendi
- Sakit kepala
- Suara serak
- Nafsu makan turun
Gejala ISPA Berat (Perlu Segera ke Dokter)
Apabila ISPA bertambah parah, gejala yang lebih serius akan muncul:
- Pusing atau sakit kepala hebat
- Kesulitan bernapas atau sesak napas berat
- Demam tinggi (lebih dari 39°C) dan menggigil
- Tingkat oksigen dalam darah rendah (hipoksia)
- Kesadaran menurun, bingung, atau bahkan pingsan
- Mual, muntah, atau diare (terutama pada anak-anak)
- Penurunan nafsu makan yang signifikan
Durasi Gejala
Gejala ISPA biasanya berlangsung antara 1-2 minggu, di mana hampir sebagian besar penderita akan mengalami perbaikan gejala setelah minggu pertama.
- Sinusitis akut: Gejala berlangsung kurang dari 1 bulan
- Bronkitis akut: Gejala berlangsung kurang dari 3 minggu
- Pneumonia: Dapat berlangsung lebih lama dan memerlukan perawatan intensif
Penyebab ISPA
ISPA dapat disebabkan oleh virus atau bakteri. Berikut mikroorganisme yang paling sering menjadi penyebab ISPA:
Virus Penyebab ISPA
- Rhinovirus: Penyebab utama pilek biasa (common cold), tetapi pada anak-anak dan orang dengan sistem imun lemah dapat berkembang menjadi ISPA serius.
- Influenza virus: Penyebab flu, dapat berkembang menjadi pneumonia bakteri sekunder.
- Adenovirus: Memiliki lebih dari 50 jenis, dapat menyebabkan pilek, bronkitis, dan pneumonia.
- Respiratory Syncytial Virus (RSV): Penyebab umum ISPA pada bayi dan anak kecil.
- Coronavirus: Termasuk virus penyebab COVID-19 dan common cold.
Bakteri Penyebab ISPA
- Streptococcus pneumoniae (Pneumokokus): Penyebab utama pneumonia bakteri, juga dapat menyebabkan meningitis dan infeksi telinga.
- Haemophilus influenzae: Dapat menyebabkan pneumonia, bronkitis, dan infeksi telinga.
- Streptococcus pyogenes: Penyebab radang tenggorokan (faringitis) dan tonsillitis.
- Staphylococcus aureus: Dapat menyebabkan pneumonia berat, terutama setelah infeksi virus influenza.
Cara Penularan ISPA
ISPA dapat menular melalui:
- Udara (droplet): Menghirup percikan air liur dari orang yang batuk atau bersin.
- Kontak langsung: Menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus/bakteri, lalu menyentuh hidung, mulut, atau mata.
- Kontak dekat: Berada dalam jarak dekat dengan penderita ISPA.
Faktor Risiko ISPA
Sistem kekebalan tubuh sangat berpengaruh dalam melawan infeksi. Risiko ISPA meningkat pada:
- Anak-anak dan balita: Sistem imun belum matang
- Lansia (di atas 65 tahun): Imunitas menurun seiring usia
- Penderita penyakit kronis: Diabetes, gagal jantung, PPOK, penyakit ginjal kronis
- Individu dengan imunosupresi: Pasien HIV/AIDS, penerima transplantasi organ, atau pengguna obat imunosupresan
- Perokok aktif: Saluran pernapasan rusak, lebih sulit pulih dari ISPA
- Lingkungan padat dengan sirkulasi udara buruk: Mempermudah penularan
- Paparan asap rokok: Balita terpapar asap rokok memiliki risiko ISPA 4 kali lebih tinggi
- Imunisasi tidak lengkap: Tidak mendapat vaksin campak, pneumokokus, atau influenza
- Gizi buruk: Sistem imun lemah
Faktor Lingkungan
Faktor penting yang mempengaruhi ISPA adalah pencemaran udara. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernapasan.
- Kabut asap karhutla: Partikel PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida merusak paru-paru
- Abu vulkanik: Erupsi gunung berapi meningkatkan kasus ISPA
- Polusi udara dalam ruangan: Asap rokok, asap dapur, ventilasi buruk
- Perubahan iklim: Musim pancaroba meningkatkan penyebaran virus
- Rendahnya kesadaran PHBS: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang kurang
Tingginya tingkat pencemaran udara menyebabkan ISPA memiliki angka yang paling banyak diderita oleh masyarakat dibandingkan penyakit lainnya.
Komplikasi ISPA
Jika tidak ditangani dengan baik, ISPA dapat menimbulkan komplikasi serius:
- Pneumonia berat: Infeksi paru-paru yang dapat menyebabkan gagal napas
- Gagal napas: Kadar oksigen darah sangat rendah, memerlukan bantuan oksigen atau ventilator
- Sepsis: Infeksi menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah
- Dehidrasi: Akibat demam tinggi dan kurang minum
- Infeksi telinga (otitis media): Terutama pada anak-anak
- Sinusitis kronis: Peradangan sinus yang berlangsung lama
- Kematian: Terutama pada pneumonia berat yang tidak ditangani
Komplikasi ISPA menjadi penyebab hilangnya hari kerja atau hari sekolah, dan bahkan berakibat kematian, khususnya pada pneumonia.
Pengobatan ISPA
Pengobatan ISPA tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya:
ISPA Ringan (Non-Pneumonia)
ISPA ringan umumnya sembuh sendiri dalam 1-2 minggu dengan perawatan di rumah:
- Istirahat cukup: Tidur 7-9 jam per malam
- Minum banyak cairan: Air putih, jus buah, sup hangat
- Konsumsi makanan bergizi: Kaya vitamin C dan antioksidan
- Obat simptomatik: Paracetamol untuk demam, obat batuk, dekongestan untuk hidung tersumbat
- Kumur air garam: Meredakan sakit tenggorokan
- Hirup uap hangat: Melegakan hidung tersumbat
ISPA Berat (Pneumonia)
Pneumonia memerlukan penanganan medis intensif:
- Antibiotik: Jika disebabkan oleh bakteri (harus sesuai resep dokter)
- Antivirus: Jika disebabkan oleh virus influenza (oseltamivir)
- Oksigen terapi: Jika kadar oksigen darah rendah
- Rawat inap: Untuk kasus berat, terutama pada anak, lansia, atau penderita komorbid
- Ventilator: Untuk gagal napas berat
Penggunaan Antibiotik yang Tepat
Penggunaan antibiotik bagi penderita ISPA menjadi dampak positif, mengingat penyebab penyakit ISPA sendiri diakibatkan oleh mikroorganisme. Akan tetapi, penggunaan antibiotik yang kurang tepat dapat menyebabkan resistensi pasien terhadap bakteri tersebut.
Penting: Jangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter. Antibiotik tidak efektif untuk ISPA yang disebabkan oleh virus.
Cara Mencegah ISPA
Pencegahan adalah cara terbaik dalam menangani ISPA. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:
1. Cuci Tangan Secara Teratur
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik.
- Lakukan terutama setelah beraktivitas di tempat umum, sebelum makan, dan setelah batuk/bersin.
- Gunakan hand sanitizer jika tidak ada air dan sabun.
2. Hindari Menyentuh Wajah
- Hindari menyentuh bagian wajah, terutama mulut, hidung, dan mata dengan tangan yang belum dicuci.
- Virus dan bakteri masuk ke tubuh melalui membran mukosa di area tersebut.
3. Gunakan Masker
- Gunakan masker saat berada di tempat ramai atau saat kualitas udara buruk.
- Gunakan masker respirator (N95) saat paparan kabut asap atau abu vulkanik.
- Tutup hidung dan mulut dengan benar.
4. Terapkan Etika Batuk dan Bersin
- Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam saat batuk/bersin.
- Buang tisu ke tempat sampah tertutup.
- Cuci tangan setelah batuk atau bersin.
5. Hindari Merokok dan Paparan Asap Rokok
- Berhenti merokok untuk melindungi saluran pernapasan.
- Hindari paparan asap rokok orang lain (perokok pasif).
- Buat rumah bebas asap rokok, terutama untuk melindungi anak dan balita.
6. Perkuat Daya Tahan Tubuh
- Konsumsi makanan bergizi: Kaya serat, vitamin C, vitamin D, dan antioksidan.
- Olahraga teratur: Minimal 30 menit per hari, 5 hari per minggu.
- Tidur cukup: 7-9 jam per malam untuk dewasa, lebih untuk anak-anak.
- Kelola stres: Stres melemahkan sistem imun.
7. Jaga Kebersihan Lingkungan
- Bersihkan rumah dan lingkungan sekitar secara rutin.
- Pastikan ventilasi udara baik agar sirkulasi lancar.
- Hindari kepadatan penduduk yang berlebihan.
- Gunakan penyaring udara (air purifier) jika kualitas udara buruk.
8. Hindari Kontak dengan Penderita ISPA
- Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan.
- Jaga jarak minimal 1 meter dari orang yang batuk atau bersin.
- Jangan berbagi peralatan makan atau minum dengan penderita.
9. Dapatkan Vaksinasi
Vaksinasi adalah intervensi pencegahan paling efektif:
- Vaksin influenza tahunan: Direkomendasikan untuk semua orang, terutama kelompok rentan.
- Vaksin pneumokokus: Mencegah pneumonia bakteri, tersedia untuk anak dan dewasa.
- Vaksin MMR: Mencegah campak yang dapat berkembang menjadi pneumonia.
- Vaksin COVID-19: Melindungi dari infeksi coronavirus berat.
Identifikasi bakteri Pneumokokus pada 49,5% kasus ISPA di Indonesia dan hal ini dapat dicegah dengan vaksin Pneumokokus.
10. Lindungi Kelompok Rentan
Selama musim kemarau atau kabut asap, lindungi kelompok rentan (anak, lansia, ibu hamil, penderita komorbid) dengan:
- Kurangi aktivitas di luar ruangan.
- Tutup rapat sirkulasi udara luar.
- Gunakan penyaring udara di dalam ruangan.
- Lakukan skrining kesehatan berkala.
- Segera berobat saat gejala awal muncul.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami:
- Demam tinggi (lebih dari 39°C) yang tidak turun dengan obat
- Sesak napas atau kesulitan bernapas
- Batuk berdahak dengan darah
- Nyeri dada saat bernapas atau batuk
- Kesadaran menurun, bingung, atau pingsan
- Gejala tidak membaik setelah 10-14 hari
- Gejala memburuk setelah sempat membaik
- Pada anak: napas cepat, cuping hidung kembang kempis, atau anak tampak sangat lemas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar