Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah ≥140/90 mmHg secara konsisten. Hipertensi dijuluki "Silent Killer" (pembunuh diam-diam) karena sering kali tidak menunjukkan gejala khusus hingga tiba-tiba menimbulkan komplikasi fatal seperti stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal.
Di Indonesia, hipertensi menjadi penyebab kematian tertinggi bersama penyakit kardiovaskular lainnya. Data menunjukkan bahwa sekitar 34% orang dewasa Indonesia menderita hipertensi, dengan banyak kasus tidak terdiagnosis karena kurangnya pemeriksaan rutin.
Apa Itu Hipertensi?
Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Tekanan darah itu sendiri adalah kekuatan aliran darah dari jantung yang mendorong melawan dinding pembuluh darah (arteri). Kekuatan tekanan darah ini bisa berubah dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh aktivitas yang sedang dilakukan jantung (misalnya sedang berolahraga atau dalam keadaan normal/istirahat) dan daya tahan pembuluh darahnya.
Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah diukur dengan dua angka:
- Tekanan sistolik (angka atas): Tekanan maksimal ketika jantung berkontraksi memompa darah ke seluruh tubuh. Normalnya < 120 mmHg.
- Tekanan diastolik (angka bawah): Tekanan terendah ketika jantung beristirahat di antara kontraksi. Normalnya < 80 mmHg.
Kategori Tekanan Darah
Berdasarkan Pedoman JNC VIII dan WHO:
- Normal: < 120/80 mmHg
- Pre-hipertensi: 120-139/80-89 mmHg
- Hipertensi stadium 1: 140-159/90-99 mmHg
- Hipertensi stadium 2: ≥ 160/100 mmHg
- Krisis hipertensi: ≥ 180/120 mmHg (perlu penanganan darurat)
Definisi Hipertensi: Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan darah diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, berdasarkan dua kali pengukuran pada waktu berbeda dalam keadaan cukup istirahat/tenang.
Baca Juga : 6 Penyakit Tidak Menular yang Wajib Diwaspadai & Cara Mencegahnya
Jenis-Jenis Hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Hipertensi Primer (Esensial)
Hampir 90-95% dari semua kasus hipertensi adalah hipertensi primer atau disebut juga hipertensi esensial. Penyebabnya adalah gabungan dari beberapa faktor:
- Faktor genetik (keturunan)
- Gaya hidup tidak sehat
- Berat badan berlebih
- Konsumsi garam berlebihan
- Kurang aktivitas fisik
- Usia lanjut
2. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis tertentu yang mendasarinya, meliputi 5-10% kasus hipertensi. Penyebab paling umum:
- Penyakit ginjal: Kerusakan atau disfungsi ginjal
- Gangguan hormon: Masalah pada kelenjar tiroid, adrenal
- Tumor: Tumor kelenjar adrenal
- Obat-obatan: Pil KB, dekongestan, obat antiinflamasi
- Kondisi kehamilan: Preeklampsia
- Penyakit jantung bawaan
3. Hipertensi Maligna
Ini adalah jenis hipertensi yang paling parah dan cepat berkembang. Hipertensi maligna sangat cepat untuk merusak organ dalam tubuh. Jika tidak diobati, konsekuensinya adalah kematian yang disebabkan oleh kerusakan otak, jantung, dan gagal ginjal.
Gejala hipertensi maligna:
- Kebas di sekujur tubuh
- Penglihatan kabur
- Kecemasan
- Sangat kelelahan
- Sakit kepala hebat
- Mual dan muntah
Hipertensi jenis ini dapat diobati dengan catatan pengobatan dilakukan secara intensif dan berkelanjutan.
4. Hipertensi Sistolik Terisolasi
Pada hipertensi ini, arteri menjadi kaku sehingga menyebabkan sistolik sangat tinggi sedangkan diastolik normal. Jenis ini sering terjadi pada lansia.
Faktor penyebab:
- Usia lanjut (penuaan arteri)
- Mengonsumsi tembakau
- Diabetes
- Diet yang salah
5. Hipertensi Resisten
Hipertensi dikatakan resisten jika 3 jenis obat tidak sanggup menurunkan tekanan darah, sehingga diperlukan 4 macam jenis obat atau lebih untuk mengendalikannya.
6. Hipertensi Jas Putih (White Coat Hypertension)
Jenis hipertensi ini hanya terjadi jika pasien sedang berada di pusat klinik atau rumah sakit. Tekanan darah tinggi ini disebabkan oleh kegugupan saat akan diperiksa oleh pihak rumah sakit. Di luar rumah sakit, tekanan darah pasien ini sangat normal.
Jika terjadi hal sama dalam pemeriksaan ulang, jenis hipertensi ini tidak perlu diobati, namun tetap perlu dipantau.
Gejala Hipertensi
Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena tidak memiliki gejala khusus pada tahap awal. Inilah mengapa hipertensi disebut "Silent Killer".
Gejala Ringan Hipertensi
Gejala-gejala yang mudah diamati antara lain:
- Pusing atau sakit kepala (terutama di pagi hari)
- Sering gelisah
- Wajah merah atau terasa panas
- Tengkuk terasa pegal atau berat
- Mudah marah atau emosional
- Telinga berdengung
- Sukar tidur atau insomnia
- Sesak napas
- Mudah lelah
- Mata berkunang-kunang
- Mimisan (keluar darah dari hidung)
- Jantung berdebar
Gejala Hipertensi Berat (Krisis Hipertensi)
Orang dengan tekanan darah sangat tinggi (biasanya ≥180/120 mmHg) dapat mengalami gejala:
- Sakit kepala hebat
- Nyeri dada
- Pusing atau vertigo
- Kesulitan bernapas
- Mual dan muntah
- Penglihatan kabur atau perubahan penglihatan
- Kecemasan
- Kebingungan atau kesadaran menurun
- Telinga berdenging
- Irama jantung tidak teratur
- Kejang (pada kasus sangat berat)
Penting: Banyak orang dengan hipertensi tidak mengalami gejala sama sekali. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Anda memiliki tekanan darah tinggi adalah dengan memeriksanya secara rutin.
Faktor Penyebab dan Risiko Hipertensi
Hipertensi disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan gaya hidup. Berikut faktor-faktor yang meningkatkan risiko hipertensi:
Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi
- Faktor genetik atau keturunan: Bila salah satu anggota keluarga atau orang tua memiliki tekanan darah tinggi, maka anak pun memiliki risiko yang sama dan bahkan lebih besar.
- Usia: Semakin bertambahnya usia, tekanan darah pun akan semakin meningkat. Risiko meningkat signifikan setelah usia 45 tahun pada pria dan 55 tahun pada wanita.
- Jenis kelamin: Pria lebih berisiko mengalami hipertensi di usia muda, sementara wanita setelah menopause.
- Riwayat penyakit: Diabetes, penyakit ginjal, atau gangguan tiroid.
Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi
- Konsumsi garam berlebihan: Garam (natrium) mempunyai peluang sangat besar dalam meningkatkan tekanan darah secara cepat. Konsumsi garam >5 gram per hari meningkatkan risiko hipertensi. Ditambah pada mereka yang sebelumnya memiliki riwayat diabetes, hipertensi ringan, dan berusia di atas 45 tahun.
- Kolesterol tinggi: Kolesterol yang identik dengan lemak berlebih yang tertimbun pada dinding pembuluh darah. Pembuluh darah yang dipenuhi dengan kolesterol akan mengalami penyempitan (aterosklerosis) dan mengakibatkan tekanan darah meningkat.
- Obesitas atau kegemukan: Seseorang yang memiliki berat tubuh berlebih merupakan peluang besar terserang penyakit hipertensi. Kelebihan berat badan memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah.
- Stres: Stres dapat memicu hormon dalam tubuh yang mengendalikan pikiran seseorang. Stres berkepanjangan memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit, sehingga tekanan darah semakin tinggi.
- Rokok: Kandungan nikotin dan zat senyawa kimia yang cukup berbahaya pada rokok memberikan peluang besar seseorang menderita hipertensi, terutama pada perokok aktif. Zat rokok yang terhirup akan meningkatkan risiko penyakit diabetes mellitus, serangan jantung, dan stroke.
- Kafein: Kafein banyak terdapat pada kopi, teh, dan minuman bersoda. Kopi dan teh jika dikonsumsi melebihi batasan normal akan mengakibatkan hipertensi. Batasi asupan minum kopi dan teh minimal 1 cangkir = 100ml per hari.
- Minuman beralkohol: Minuman beralkohol seperti bir, wiski, tuak, dan lain-lain dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Konsumsi alkohol berlebihan meningkatkan risiko hipertensi.
- Kurang olahraga: Kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga membuat organ tubuh dan pasokan darah maupun oksigen menjadi tersendat sehingga meningkatkan tekanan darah. Gaya hidup sedentari (kurang gerak) meningkatkan risiko hipertensi.
- Pola makan tidak sehat: Diet tinggi lemak jenuh, lemak trans, rendah serat, dan rendah buah serta sayuran meningkatkan risiko hipertensi.
- Paparan polusi udara: Paparan jangka panjang terhadap polusi udara meningkatkan risiko hipertensi pada orang dewasa.
Komplikasi Hipertensi
Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat menyebabkan komplikasi serius:
- Serangan jantung: Hipertensi merusak arteri koroner yang mensuplai darah ke jantung.
- Stroke: Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pembuluh darah di otak pecah atau tersumbat.
- Gagal jantung: Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah, akhirnya melemah.
- Gagal ginjal: Hipertensi merusak pembuluh darah di ginjal, mengurangi kemampuan filtrasi.
- Gangguan penglihatan: Kerusakan pembuluh darah di retina dapat menyebabkan kebutaan.
- Aneurisma: Pembuluh darah melemah dan menonjol, dapat pecah dan mengancam nyawa.
- Penyakit arteri perifer: Penyempitan arteri di kaki, lengan, perut, atau kepala.
- Demensia vaskular: Gangguan aliran darah ke otak mempengaruhi daya pikir dan memori.
- Sindrom metabolik: Kombinasi hipertensi, gula darah tinggi, lemak perut berlebih, dan kolesterol abnormal.
Fakta: Hipertensi merupakan penyakit yang mematikan di dunia, karena hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala-gejala khusus, sehingga penyakit ini timbul dengan cara tiba-tiba.
Pencegahan Hipertensi
Pencegahan hipertensi dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup sehat. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:
1. Kurangi Konsumsi Garam
- Batasi asupan garam maksimal 5 gram per hari (1 sendok teh).
- Hindari makanan olahan, makanan cepat saji, dan makanan kaleng yang tinggi natrium.
- Gunakan rempah-rempah atau bumbu alami sebagai pengganti garam.
- Baca label nutrisi untuk mengetahui kandungan natrium.
2. Olahraga Teratur
- Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, 5 hari per minggu.
- Olahraga ringan seperti bersepeda, berjalan kaki, jogging, atau berenang.
- Bila telah menderita hipertensi, olahraga yang disarankan adalah olahraga ringan selama 30 menit dan seminggu paling tidak 3 kali.
- Olahraga akan meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh, serta menurunkan tekanan darah.
3. Konsumsi Makanan Sehat
- Perbanyak buah dan sayur: Kaya serat, potasium, dan antioksidan seperti melon, tomat, sayuran hijau, pisang, dan alpukat.
- Pilih biji-bijian utuh: Beras merah, gandum utuh, oat.
- Konsumsi ikan: Kaya omega-3 yang baik untuk jantung.
- Hindari lemak jenuh dan trans: Kurangi gorengan, makanan cepat saji, dan makanan olahan.
- Diet DASH: Dietary Approaches to Stop Hypertension, diet khusus untuk menurunkan tekanan darah.
4. Pertahankan Berat Badan Ideal
- Jaga Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kisaran normal (18,5-24,9).
- Hindari kegemukan atau obesitas yang meningkatkan risiko hipertensi.
- Kombinasikan diet sehat dengan olahraga teratur.
5. Hindari Alkohol
- Batasi atau hindari konsumsi minuman beralkohol.
- Alkohol dapat meningkatkan tekanan darah dan mengurangi efektivitas obat hipertensi.
6. Berhenti Merokok
- Berhenti merokok untuk menurunkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
- Hindari paparan asap rokok orang lain (perokok pasif).
- Nikotin menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan peningkatan tekanan darah.
7. Kelola Stres
- Lakukan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam.
- Tidur cukup 7-9 jam per malam.
- Lakukan hobi atau aktivitas yang menyenangkan.
- Hindari situasi stres berkepanjangan.
8. Batasi Kafein
- Batasi konsumsi kopi, teh, dan minuman bersoda maksimal 1-2 cangkir per hari.
- Pilih kopi tanpa kafein atau teh herbal sebagai alternatif.
9. Periksa Tekanan Darah Secara Rutin
- Lakukan pemeriksaan tekanan darah minimal 1 kali per tahun untuk dewasa.
- Lebih sering jika memiliki faktor risiko atau sudah terdiagnosis hipertensi.
- Gunakan alat pengukur tekanan darah digital di rumah untuk monitoring mandiri.
10. Kendalikan Penyakit Penyerta
- Kendalikan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh.
- Kendalikan diabetes jika mempunyai penyakit DM tersebut.
- Obati penyakit ginjal atau gangguan tiroid jika ada.
Program CERDIK Kemenkes
Kementerian Kesehatan menganjurkan perilaku CERDIK untuk mencegah hipertensi:
- Cek kesehatan secara berkala
- Enyahkan asap rokok
- Rajin aktivitas fisik
- Diet seimbang dengan membatasi asupan garam, gula, dan lemak
- Istirahat cukup
- Kelola stres dengan baik
Pengobatan Hipertensi
Pengobatan hipertensi meliputi perubahan gaya hidup dan obat-obatan:
Perubahan Gaya Hidup
Langkah pertama dalam pengobatan hipertensi adalah modifikasi gaya hidup seperti yang telah disebutkan di bagian pencegahan.
Obat-Obatan Antihipertensi
Jika perubahan gaya hidup tidak cukup, dokter akan meresepkan obat:
- Diuretik: Membantu ginjal membuang kelebihan natrium dan air dari tubuh.
- ACE inhibitor: Melebarkan pembuluh darah dengan menghambat pembentukan angiotensin.
- ARB (Angiotensin II Receptor Blockers): Melebarkan pembuluh darah dengan menghambat kerja angiotensin.
- Calcium channel blockers: Melebarkan pembuluh darah dengan menghambat masuknya kalsium ke sel otot pembuluh darah.
- Beta blockers: Memperlambat detak jantung dan mengurangi kekuatan pompaan jantung.
Penting:
- Minum obat sesuai resep dokter dan jangan menghentikan sendiri.
- Lakukan kontrol rutin untuk memantau tekanan darah dan efek samping obat.
- Kombinasikan obat dengan perubahan gaya hidup untuk hasil optimal.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika:
- Tekanan darah ≥180/120 mmHg (krisis hipertensi)
- Mengalami gejala hipertensi berat: sakit kepala hebat, nyeri dada, sesak napas, penglihatan kabur
- Tekanan darah tetap tinggi meski sudah minum obat
- Mengalami efek samping obat yang mengganggu
- Memiliki faktor risiko hipertensi dan belum pernah memeriksa tekanan darah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar